Skip to main content

Pelajaran Berharga dari Pementasan "Going Home"

Hari Jumat (8/6) silam, saya bersama salah satu rekan sepelayanan saya menonton sebuah pertunjukan di Petra Little Theater (selanjutnya disingkat PLT) yang berjudul Going Home. Pementasan ini merupakan pementasan kedua di semester genap tahun akademik 2017/2018 setelah karya berjudul Customer is King. 

Going Home adalah sebuah karya satire yang dituliskan oleh seorang mahasiswi program English for Creative Industry yang bernama Dita Berlian. Berlatar sebuah keluarga Kristen, Going Home mengisahkan tentang Suryani yang mendapat mimpi bahwa ia akan segera kembali ke rumah Tuhan dalam waktu 3 hari. Berpikir bahwa ia akan segera meninggalkan dunia ini, Suryani kemudian bertekad untuk membuat Renata – putri tunggalnya yang ateis – bertobat dan  percaya kepada Tuhan. Berbagai cara dilakukan oleh Suryani agar Renata mau menerima keberadaan Tuhan, tetapi tak ada yang membuahkan hasil. Namun, ketika sebuah kejadian perampokan yang pada awalnya adalah sandiwara yang direncanakan oleh Suryani berubah menjadi kenyataan, semuanya berubah dan Renata yang tidak percaya Tuhan menjadi percaya Tuhan karena sebuah taruhan yang ia buat bersama Suryani. Pada akhirnya, terungkap bahwa arti mimpi dari Suryani adalah bahwa ia dan putrinya tersebut akan kembali ke gereja setelah sekian lama tak pergi ke gereja. 

Terlepas dari berakhirnya cerita ini dengan happy ending, ada beberapa hal yang perlu disoroti dan menjadi pelajaran buat kita. 

1.     Penginjilan memang wajib dilakukan oleh semua orang Kristen, tetapi bukan berarti kita bisa memaksakan iman kita kepada orang lain.
Dalam Matius 28:19-20 yang juga dibacakan oleh Renata dalam pementasan ini, orang Kristen memang diperintahkan untuk melakukan penginjilan sebagai bentuk amanat agung untuk menjadikan semua bangsa murid Kristus. Namun, bukan berarti perintah ini bisa digunakan untuk menyebarkan kekristenan dengan paksa. Dalam memberitakan Injil, kita juga diperintahkan untuk melakukannya atas dasar kasih dan bukan paksaan. Ketika kita melakukannya dengan paksaan, maka secara tidak langsung, kita melanggar isi Kitab Suci yang mengatakan bahwa kita tidak boleh memaksa orang untuk percaya kepada apa yang kita percayai (bdgk. Luk. 9:1-6, Mat. 10:5-15); melainkan kita harus menyerahkannya juga kepada Roh Kudus agar karya Roh Kudus bekerja di dalam hati orang tersebut.

2.     Percaya Tuhan tidak berarti selalu mempercayai hal-hal yang mistis, namun juga bisa mempercayai hal-hal rasional.
Di dalam pementasan, dikisahkan bahwa Suryani berpikir bahwa gambar Yesus dan kayu salib yang menjadi pajangan di rumah itu merupakan benda-benda yang ‘cukup sakral’ sehingga ia begitu marah ketika Renata membanting pintu dan membuat gambar Yesus tersebut jatuh ke lantai. Dalam kasus ini, penulis setuju dengan Renata bahwa gambar yang menjadi pajangan itu hanyalah sebuah gambar yang tidak bisa menggantikan Pribadi Yesus yang sesungguhnya. Meskipun tindakan Renata yang membanting pintu itu adalah tidak tepat, namun dalam hal ini, argumentasi Renata adalah tepat dan memang harus diakui bahwa gambar adalah gambar yang tidak hidup meskipun gambar bisa digunakan untuk merepresentasikan sesuatu/seseorang.

3.     Menjadi seorang religious bukan berarti menjadikan Tuhan sebagai yang nomor 1 di dalam hidupnya, melainkan menjadikan Tuhan sebagai pusat dari kehidupannya.
Dalam bukunya yang berjudul Not A Fan, Kyle Idleman menulis bahwa Tuhan tidak pernah ingin menjadi nomor 1 di dalam hidup kita. Tuhan ingin menjadi yang satu-satunya – Ia menginginkan kehidupan kita berpusat pada-Nya. Inilah yang tidak dilakukan oleh Suryani, di mana ia cenderung menomorsatukan Tuhan dan terkesan mengabaikan yang lain, termasuk kebahagiaan anaknya, Renata. Sepintas, tindakan menomorsatukan Tuhan ini adalah benar karena kita lebih mengutamakan Tuhan di atas segalanya. Namun, hal yang sepintas benar ini bukan berarti adalah kebenaran. Ketika kita menomorsatukan Tuhan, kita tidak menjadikan hidup kita berpusat pada-Nya, melainkan diri kita sendiri karena seringkali kita menggunakan Tuhan untuk memuaskan ego kita sendiri. Namun, jika kita menjadikan Tuhan sebagai pusat dari kehidupan kita, maka kehidupan kita akan berpusat seluruhnya pada Tuhan; sehingga, apapun yang kita lakukan dasarnya adalah kasih akan Tuhan.

Memberitakan kabar sukacita memang adalah tugas orang-orang percaya. Namun, kabar itu akan benar-benar menjadi kabar sukacita ketika diberitakan dengan dasar kasih. Selebihnya, kita harus menyerahkannya kepada Tuhan dan membiarkan Roh Kudus bekerja di dalam hati orang yang kepadanya kita beritakan Injil. Kiranya apa yang tertulis di sini bisa menjadi pembelajaran bagi kita yang ingin turut membagikan kabar sukacita itu. 

Bibliography

Berlian, D. (2018, June 8). Going Home. (M. K. Salelatu, G. L. Moekoe, L. Aditya, A. K. Candra Dewi, & Y. Saputra, Performers) Petra Little Theater, Surabaya, East Java, Indonesia.
Idleman, K. (2012). Not A Fan. (P. Jatim, Trans.) Perkantas Jatim.



Comments